-
1011
4
Mar -
1747
4
Mar -
159
4
Mar
| ♕ | Pont Neuf - Paris | by © Arnaud Frich photography
yeah, someday
(via travelthisworld)
-
1271
4
Mar
9gag:
Yorke <3
-
59
26
Feb
(Source: clementineandjoel)
-
46
26
Feb -
1133
26
Feb -
27
25
Feb -
8946
25
Jan
Photo Courtesy: itsjill
-
23
JanSepenggal Kisah Masa Kecil :)
Saat saya kecil, saya selalu menungu-nunggu hari Kamis. Know what? Hari itu adalah hari terbitnya majalah masa kecil saya yaitu tak lain dan tak bukan, majalah BOBO. Setiap hari Kamis, Pak Ableh demikian nama seorang loper koran dan majalah akan lewat di depan rumah saya dan membawakan majalah yang saya nantikan itu. Sedikit flashback, sebelum berlangganan majalah Bobo saya terlebih dulu berlangganan majalah Bocil. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya pindah berlangganan ke “kakaknya” Bocil, yaitu Bobo.
Dapat dibilang bahwa saya tumbuh dan berkembang bersama majalah Bobo. Kecintaan saya pada dunia literatur berawal dari saat-saat menghabiskan waktu di dalam kamar bersama majalah Bobo. Saat kecil memang saya lebih suka membaca berbagai buku cerita daripada bermain di luar rumah. Selain majalah Bobo, saya suka membaca cerita Winnie the Pooh, Laura Ingalls Wilder, seri cerita bergambar terbitan Gramedia Pustaka Utama, dan kisah Adikku yang Nakal. Beberapa buku masa kecil saya itu sekarang sudah diperbarui dan diterbitkan lagi. Saya beberapa kali melihat buku-buku cetakan terbaru itu di toko buku. Namun majalah Bobo tetap sahabat paling setia saat saya kecil. Tak jarang, saya membaca cerita-cerita yang ada di dalamnya lebih dari satu kali. Mulai dari kisah keluarga Bobo, dongeng, cepen, kisah Paman Kikuk, Husin, dan Asta, Cerita dari Negeri Dongeng, Si Sirik dan Juwita, Bona dan Rong-rong dan berbagai konten lainnya. Oh iya, ada juga cerbung Peri Mungil yang saya suka. Satu lagi, kenangan saya mengenai majalah Bobo adalah saat krisis moneter melanda negara kita sekitar tahun 1997-1998. Walaupun krismon, tetapi orang tua saya tetap membelikan saya Bobo. Saat itu majalah Bobo jadi “kurus”, halaman dan bonusnya berkurang. Setelah krismon halaman Bobo jadi tebal lagi.
Saya berlangganan majalah Bobo sampai saya kelas 6 SD. Setelah itu saya sempat beberapa kali membeli majalah Bobo, tapi rasa-rasanya kok sudah berbeda ya? Entahlah, tapi saya lebih suka majalah Bobo versi dulu, versi klasiknya. Cerpen dan dongengnya juga saya lebih suka yang dulu. Karena kangen membaca cerita-cerita di Bobo edisi lama, saya pun mencari-cari di google siapa tau saja ada arsip-arsip lamanya. Ternyata ada semacam blog yang menyimpan koleksi cerita lama Bobo yaitu di http://home.pacific.net.id/bobo/ .Sayangnya web ini sekarang sudah ditutup. Menurut saya, penting untuk menyimpan arsip-arsip lama. Bagaimanapun juga cerpen, dongeng dan lain sebagainya itu hasil karya intelektual juga kan? Mungkin redaksi Bobo dapat meniru redaksi Kompas yang memiliki arsip online untuk cerpen-cerpennya. Jadi, para pembaca setia majalah Bobo dapat bernostalgia mengenai memorabilia masa kecilnya.
Hmm… jadi ingin membongkar bendelan Bobo di gudang.
majalah Bobo versi lamaaa sekali (nemu di google) :D
-
| ♕ | Pont Neuf - Paris | by © Arnaud Frich photography
-
-
-
submission from running-my-ass-off